Tak Banyak yang Tahu! Begini Sejarah Peci atau Kopiah di Indonesia

Perlengkapan sholat untuk para pria salah satunya adalah peci atau kopiah. Tidak hanya dipakai ketika akan menjalankan sholat saja, peci juga bisa Kamu gunakan saat silaturahmi atau kegiatan agama lainnya. Bentuk dari peci atau kopiah juga sangat beragam setiap daerah atau bahkan negara memiliki ciri khas masing-masing sendiri. Selain bentuk atau corak yang berbeda penyebutan tiap-tiap daerah, wilayah atau negara pun berbeda. Jika di Indonesia kita sudah akrab dengan sebutan peci lain hal nya jika di negara Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan selatan Thailand mereka menyebutnya dengan songkok.

Peci

Pada awalnya orang-orang arab yang dipandang sebagai penyebar peci ditanah melayu, sehingga banyak orang berspekuliasi tentang keberadaan peci di Indonesia. Dibeberapa negara Islam lainnya juga memiliki peci khas, seperti di Turki ada fez dan di Mesir ada tarboosh. Lalu bagaimana tentang sejarah peci di Indonesia itu sendiri? Yuk simak beberapa penjelasan berikut ini.

Rintisan Sunan Kalijaga

Konon mula adanya peci di Indonesia karena rintisan dari sunan kalijaga. Pada awalnya sunan kalijaga membuat sebuah mahkota khusus untuk sultan fatah yang diberikan nama kuluk. Kuluk mirip seperti kopiah namun bentuknya lebih besar. Dengan adanya cerita tersebut membuktikan bahwa peci sudah ada di tanah melayu sejak abad ke 13. Pada tahun 1486 – 1500 saat Raja Ternate Zainal Abidin yang sedang belajar agama islam di madrasah Giri, membawa pulang oleh-oleh peci saat pulang ke kampung halaman.

Ada pula yang berpendapat Laksmana Ceng Ho yang membawa peci ke Indonesia. PECI berasal dari kata PE (artinya delapan) dan CHI (artinya energi), sehingga arti peci itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.

Lalu SONGKOK yang berarti KOSONG DARI MANGKOK. Artinya, hidup ini seperti mangkok yang kosong. Harus diisi dengan ILMU dan BERKAH. Sementara kata KOPIAH berasal dari KOSONG KARENA DI PYAH.  Maknanya: kosong karena dibuang (di pyah). Apa yang dibuang? Kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan syaitan.

Pada periode 1800-1940 Jean Gelman Taylor meneliti interaksi antara kostum budaya jawa dengan belanda. Pada pertengahan abad ke 19 pengaruh tersebut tercermin dalam pengadopsian bagian-bagian pada busana barat. Terlihat pula pria-pria yang dekat dengan orang belanda mulai mengenakan pakaian barat dengan perpaduan blangkon atau peci di kepala.

Ikon Nasional

Kalian tentu sudah tidak asing lagi dengan topi pahlawan yang terlihat mirip dengan kopiah untuk sholat. Ini mungkin berakar dari gagasan presiden pertama Indonesia Soekarno. Gagasan yang di  usung yaitu siapapun berhak untuk memakai peci sebagai lambang indentitas Indonesia.

Pada usia menginjak 20 tahun ketika dia berada di belakang tukang sate, dia mengamati kawan-kawannya, yang menurutnya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat. Pada tahun 1921 tepatnya bulan Juni saat rapat Jong Java berlangsung di Surabaya, Soekarno membuat gebrakan hebat yang membuat pandangan orang berubah.

Dalam rapat tersebut Soekarno membuat semua orang ternganga dan memecah kesunyian degan berbicara “…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” Sejak saat itu lah peci menjadi lebih populer di Indonesia.

Sekarang Kamu sudah tahu sedikit banyak tentang awal mula peci di Indonesia. Mulai dari sekarang jangan sungkan untuk memakai peci karena peci merupakan ciri khas atau bentuk apresiasi kita yang bangga terhadap budaya Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll Up
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE